//
you're reading...
Just post

Jakarta

When you’ve lived here almost all of your life, you sometimes forget how powerful Jakarta is. It changes people, it breaks people, it makes people, it shifts values, and every single second it comes in touch with them.

Jakarta sedemikian kuatnya, sehingga siapa pun yang pernah bersentuhan dengannya tidak akan pernah jadi orang yang sama lagi. Jakarta membuat semua yang ada di dalamnya harus meredefinisikan semua tentang diri mereka sendiri. Meredefinisi makna rumah, makna keluarga, hubungan, makna waktu. Redefining what matters, and what doesn’t.

Ada yang bilang Jakarta itu, jika diibaratkan dalam sebuah hubungan, adalah seperti pasangan yang abusive, yang selalu menyiksa, yang membuat kita berulang kali mempertanyakan arti kasih sayang dan cinta, yang menguji kesabaran setiap kali dia memukul kita berulang-ulang, but we stay. Yet we don’t leave.

Mungkin itu salah satu alasan kenapa kita tidak pernah bisa melepaskan kota ini. Jakarta mengikatkan betapa kita sebenarnya bisa sangat kuat. And we love to be reminded how strong we can be, right?

Jordan Rane, seorang jurnalis CNN, pernah mentahbiskan Jakarta di urutan nomor tujuh kota yang paling dibenci di dunia. More than 2,4 million cities in the world and we got lucky number seven! Tapi kita semua tetap cinta Jakarta, kan? Karena kota yang sering kita sebut kejam dan keras ini sebenarnya menyimpan banyak cerita di setiap sudutnya.

Cerita tentang kencan pertama ribuan pasangan waktu masih berseragam putih abu-abu di Roti Bakar Edy Blok M. Tentang seorang laki-laki usia pertengahan tiga puluhan, dengan wajah yang tidak pernah tidak letih karena bertahun-tahun menjadi budak korporasi, tapi selalu ada senyum tipis yang selalu tergurat di bibirnya setiap melintasi Melawai, teringat masa-masa jayanya jadi anak nongkrong pameran mobil ceper paling keren belasan tahun yang lalu. Tentang seorang ibu yang mendekap kantong plastik erat-erat di dalamnya, sambil tetap berusaha berdiri tegak di tengah impitan puluhan penumpang lain dalam satu gerbong commuter line, karena di dalam kantong plastik itu ada sesuatu yang sangat berharga buatnya: boneka baru untuk anak perempuannya yang sudah menunggu di rumah, hasil menabung uang lembur berminggu-minggu.

For many of us, Jakarta is not a city. It’s a book full of stories. While some of us, Jakarta is confidant, keeping of our deepest secrets without ever judging us.

Rahasia seorang ayah yang disambut layaknya pahlawan oleh anaknya waktu membawa sepasang seragam sekolah baru untuk menggantikan seragamnya yang sudah lusuh dan lapuk, dan sang ayah hanya bisa tersenyum getir, mengingat ibu-ibu tua di pasar yang berhasil dirampoknya untuk membelikan seragam itu. Rahasia perempuan muda bersuara emas dari Garut bernama Eni, yang akhirnya pulang kampung setelah lima tahun merantau untuk menjajakan suaranya. Disambut pujian dan kekaguman dari taman-teman lama di kampungnya melihat penampilan Eni yang sudah layaknya penyanyi dangdut terkenal, tak seorang pun tahu yang akhirnya bisa Eni jajakan hanya tubuhnya.
Critical Eleven – p143,144,150

Begitu juga diri kita pribadi, hanya kita yang tahu betapa Jakarta menyimpan banyak rahasia kehidupan kita. Memendam cinta yang tak tersambut sembari menikmati perjalanan di dalam taksi ber-voucher dari company, di dalam uber atau bahkan ketika menikmati lampu-lampu perjalanan malam ketika dibonceng sang pujaan hati (menghayal, padahal bersama Abang Go-Jek). Dan hanya mereka yang mengerti juga betapa cueknya dengan segala keadaan ketika di belahan Jakarta lain ada yang merindukannya.

Dan di belahan Jakarta yang lain lagi, seorang karyawati sedang menikmati lembur kerjaan yang berasa kencan karena ditemani bos ganteng berstatus single, duda atau bahkan juga sudah berkeluarga namun masih genit menggoda, dan sang wanita menyukainya. Padahal di coffee shop hanya selisih beberapa blok bangunan di sebelahnya, lelaki yang berstatus suaminya sedang menunggu sembari bercengkrama hangat, ditemani seorang teman lama. Lebih tepatnya, cinta lamanya. Bernostalgia. Lebih sering disebut killing time. Sambil menunggu masing-masing pasangannya menyelesaikan tuntutan hidup di Jakarta. Siapa peduli? Jakarta memberikan semua kesempatan, masing-masing orang menikmatinya dengan cara masing-masing.

  

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: