//
you're reading...
Motivation

THE POWER OF COMPLIMENTS

Saya memanggilnya Rumi-san karena ia seorang Jepang. Bukan dari golongan elite apalagi jetset. Sehari hari ia melayani pelanggan di ‘check in counter’ di Haneda Airport.

Pagi itu, Rumi-san melayani saya dengan ramah, sesuatu yang biasa. Tapi ada hal yang menarik, ia menyodorkan ‘feedback form’ sambil berujar ‘if you have any feedback, please kindly fill the form’, katanya sambil menuliskan namanya dan menyodorkan ke saya.

‘Will do’, saya menjawab singkat.

Sambil menunggu dua rekan lain yang juga sedang ‘check in’ di konter lain, apalagi ada salah satu yang harus mengurus bagasi karena ia membawa ‘golf bag’, saya secara iseng mengisi formulir itu.

Saya tulis ‘compliments’ yang sederhana. ‘A great service by Rumi-san. You should be proud to have her as your staff ‘.

Sederhana, singkat tapi saya kira cukup ‘powerful’ untuk sebuah pujian yang memang saya sengaja rancang untuk membuatnya bangga bekerja melayani pelanggan.

Saya mengantar formulir itu, dengan sengaja saya tidak merekatkannya dengan maksud agar ia membacanya. Maklum jiwa inspirator, siapa tahu kalimat sederhana ini membuat dampak besar baginya. Itu saja tujuan saya, membuat bahagia tanpa biaya hanya sekedar menulis satu menit saja kenapa tidak.

Kami bertiga ke ‘lounge’. Menunggu jadual terbang yang kurang dari sejam lagi. Kami sempat ke ‘waiting room’ sebentar dan kembali lagi ke ‘lounge’ mengingat ada penundaan jadual terbang selama 90 menit.

Rupanya Rumi-san sudah mencari saya di lounge.

‘Are you Mr Santoso?’, tanyanya meyakinkan walaupun saya tahu ia mengenal saya karena ‘feedback form’ tadi.

‘Yes, Rumi-san’, saya menjawab dengan memanggil namanya.

‘Karena pesawatnya ‘delay’, kemungkinan ‘connecting flight’ ke Jakarta akan berubah dari XX962 ke XX964 hanya berbeda satu jam. Apakah anda setuju dengan perubahan ini?’, tanyanya.

‘Ok, no problem with me. Please make sure three of us will have the same flight’, saya memintanya dengan menyebut dua kolega saya.

‘Yes, I will arrange for that. One more thing, TV tempat anda duduk no 12 C bermasalah, tapi sebelah tempat duduk anda no 12 A kosong, apakah anda bersedia duduk di situ atau saya akan menggantinya di tempat lain?’, tanyanya lagi.

‘It’s ok, No problem with me’.

‘Ok then, thank you. Please wait here and I will let you know once it is ready for boarding’, katanya dengan ramah.

‘Aneh ya, kan banyak yang pakai kelas bisnis – termasuk kolega saya – tapi kenapa hanya saya yang mendapat perlakukan istimewa ?’, saya berdiskusi dengan kolega saya. Saya memang tidak mengharapkan jawaban pasti karena memang kita tidak pernah tahu kenapa.

Selang beberapa saat, ia menghampiri saya dan mengatakan pesawat sudah siap berangkat.

Ini yang lebih mengagetkan saya. Ia mengantar saya dari ‘lounge’ bukan hanya sampai ke ‘waiting room’ tapi sampai ke gerbang terakhir sebelum saya masuk ke pesawat. Ia mengurus semua paspor dan ‘boarding pass’ saya, sehingga saya hanya melenggang tanpa beban ke tempat duduk.

Sesampainya di tempat duduk saya, saya meminta salah satu pramugari untuk mencari nama lengkapnya karena akan terlalu banyak Rumi, saya akan memberi ‘feedback’ tambahan atas servisnya yang sangat bagus.

‘Can you help me?’, saya memintanya.

‘Of course, I will find her full name for you’, kali ini Ms Lin ikut sibuk beraksi.

Rupanya kalimat sederhana, saya ingin memberi ‘compliments’ ke Rumi-san, mempengaruhi pelayanan Ms Gui Shi Lin ke saya. Ia sangat ‘care’ dan memberi saya pelayanan yang selalu ‘duluan’ dibandingkan penumpang lain di kelas yang sama. Bahkan permintaan makan saya yang ‘mixed’ antara ‘Japanese Bento’ dan buah gaya ‘Western’, dipenuhinya tanpa banyak kalimat ‘let me see’.

Saya meminta kembali ‘feedback form’ untuk menuliskan terima kasih saya ke pelayanan Ms Lin yang luar biasa, ia terkejut, dan tentunya senang hati memberikannya bagi saya. Sejak jam itu, saya menjadi pelanggan istimewa layaknya ‘first class customer’.

Saya merenung dan menuliskan kisah ini karena mendapat inspirasi untuk membuat kalimat bijak. ‘Taburlah pujian yang tulus, engkau akan menuai kebaikan yang prima. Bagikan pujian yang tepat, engkau akan menyegarkan semangat yang patah dan hati yang sedang luluh’.

Memang pujian itu dahsyat dampaknya. Membuat buluh yang terkulai tegak kembali.

Begitu luar biasanya, tapi sayangnya banyak dilupakan orang apalagi pemimpin yang selalu berpikir ‘sudah seharusnya’.

Kemalasan, kegagalan, kesedihan, patah semangat dan masih banyak lagi ‘kekurangan’ kadang bisa diperbaiki, diubah, ditambah dengan cepat hanya dengan sebuah pujian yang tulus dari pimpinannya.

Pujian mengangkat semangat baru. Pujian mendongkrak keyakinan baru.

Pujian bahkan bisa mengubah nasib seseorang dari ‘zero’ ke ‘hero’. Seorang yang dipuji akan mempunyai optimisme dan antusiasme yang akan mendorong kinerjanya keatas.

Sebaliknya, cacian dan teguran terus menerus tidak akan mengubah situasi yang jelek malahan acapkali justru memperburuk keadaan.

Pertanyaannya, sebagai pemimpin, orang tua dan kolega berapa banyak anda menabur ‘pujian’ bagi orang di sekitar anda ?

Percayalah, kalau anda sering melakukannya dengan tulus, anda sedang mencetak Beethoven, Thomas Alfa Edison dan Albert Einstein yang baru. Kalau tidak, cercaan dan kata kasar anda sedang menciptakan Hitler baru.

Anda pilih yang mana ?

  
SWA NO 19, 3-16 Sept 2015 hal 130

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: