//
you're reading...
Just post, Uncategorized

T.I.P.I.

Once upon a time, hanya terdapat satu benda keramat yang kita sebut TIPI ( TV, televisi, television) dalam sebuah desa. Sebuah teknologi yang sangat, sangat, sangat bergengsi di jamannya. TV hitam putih yang tersimpan dalam sebuah kotakan semacam buffet kecil dgn pintu yg bisa digeser di bagian depan. 

Terdapat 2 tuner di bagian pinggir, bagian atas untuk mencari channels & yg lain untuk pengaturan volume. Konon kami memperlakukannya dengan sangat istimewa, hal yg paling menyenangkan adalah ketika diberikan mandat untuk switch it off/on, putar pelan2 tuner-nya dgn penuh penghayatan, turunkan volumenya, geser pintunya pelan-pelan hingga menutup sempurna. 

Moment ketika pergantian mode dari off/on dan sebaliknya menjadi hal yang sangat menyenangkan. Rasanyaaaaa…hmmmm…speechless…pengen teriak “hwaaaaaa….dia nyalaaaaaa๐Ÿ˜ฑ”…atau “wow, dia mati di tanganku!๐Ÿ’ช”…agak lebay memang, tp sudah terbilang sakti kl sudah mendapatkan kepercayaan itu. ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‚ Hahahah

Channel satu-satunya yang bisa diakses hanya TVRI. Dan acara favorit kami adalah Film India. Aktor jagoan favorit kami saat itu adalah Govinda, Sanjay Dutt & Amita Bachan (tokoh2 ini terkenal sebelum kami mengenal Sahruk Khan & The Gang). Acara yg lain? Entahlah. Tidak setiap waktu kita bisa menonton TIPI itu. Itu adalah aktifitas paling mewah buat kami. 

Moment paling mendebarkan ketika layar TV sudah mulai semakin mengecil, tanda daya dari Aki sudah tak sesakti biasanya. Kita masih bisa bertahan hingga titik penghabisan. Menikmati detik-detik layar semakin mengecil, mengecil dan mengecil hingga tersisa hanya garis, titik kemudian. Bleb! The end!

Kami harus sabar menunggu 2 hari kemudian untuk menontonnya kembali, setelah Aki di-sterk (di charge) di luar desa. Di situlah knp yg kami ikuti hanya film India. Acara yang lain tak lagi penting, kami harus hemat energi, sekali energi habis, 2 hari menunggu itu rasanya tersiksa sekali.

Time flies, muncullah teknologi baru bernama TV berwarna. Dengan owner yang berbeda. Base camp kami berpindah ke tempat pemilik TV berwarna itu. Betapa bahagianya kami. Setelah diamati, patterns warnanya kok selalu di tempat yang sama.

Ternyata, TV hitam putih yang sama. Hanya bedanya, terdapat lapisan mika transparan berwarna yang digantungkan di depan screen. Motifnya ada 2, garis-garis dan polkadot dengan 3 kombinasi degradasi warna dasar : merah, kuning & biru. Sempat aneh karena kadang mapping warnanya kurang pas di gambar yang selalu bergerak, tapi kami sudah sangat bersyukur, lebih happy, menonton TV “berwarna”.

Jaman berkembang pesat, muncullah TV berwarna “beneran”. Dgn pemilik yang berbeda lagi. Base camp kami berpindah lagi. Pemiliknya sangat baik, menempatkan TV di ruang tamunya yang sangat lebar sehingga kami tidak perlu berdesak-desakan ngintip-ngintip lagi saking sesaknya. Tapi peminatnya semakin bertambah, hingga tidak seimbang dengan space yang disediakan. Jadi upacara ngintip di jendela & desak2an masih dilakukan untuk yang datang terlambat.

Ketika TV berwarna itu hadir, listrik sudah masuk desa. Tontonan kamipun berkembang, Film India masih menduduki peringkat pertama, acara favorit kami selanjutnya adalah Film2 Susana, Angling Darma, Saur Sepuh & Mak Lampir. Kami sangat tidak ingin melewatkan ceritanya. 

Keesokan harinya tak ada topik bicara lain di sekolah, kantor desa, pasar, warung kopi, selain cerita-cerita tersebut. Mereka yang tak sempat melihatnya, menyesal, kadang membanting topi ke meja. 

“Rugilah kau!” cibir yang lain. Kami, perwakilan dari anak-anak yang ada jadwal mengaji dari sore hingga jam 7 malam akan berlomba-lomba pulang lebih cepat agar tidak ketinggalan untuk nonton TV. 

Guru ngaji kami peka dengan keadaan, barang siapa bisa setor hafalan yang sudah ditentukan atau berani menjawab dengan cepat & tepat ketika sang guru melempar pertanyaan random, dia sangat beruntung karena akan diijinkan pulang lebih dulu dan memiliki harapan berada di deretan paling depan untuk menonton TV. Yang lain? Nikmatilah nyempil hanya kebagian ngintip dari jendela. 

Itu menjadi motivasi tersendiri bagi kami para anak-anak untuk belajar & menghafal lebih giat, demi mengikuti perkembangan jaman, mendapatkan kesempatan nonton TV di posisi yang tepat. ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‚

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: