//
you're reading...
Islam, Uncategorized

Catatan Subuh Puasa Tahun Lalu

Jakarta-Indonesia-2014

Puasa memasuki 10 hari kedua. Jama’ah subuh sudah mulai menunjukkan kemajuan, shaf nya mulai maju. Biasanya sih subuh di masjid jadi “selonong” girl, jalan ke masjid, sholat, pulang, done! Jarang-jarang perhatikan sekitar. 

Unusual, pagi ini nyoba menikmati & mengamati sekitar. Mulai dari awal, berangkat jauh-jauh sebelum adzan berkumandang, tepatnya pas imsa’. Biasanya berangkat pas adzan. 
Ketika buka gembok pagar, baru merhatikan kunci bawah biasanya sudah kebuka duluan, defaultnya, bagian bawah dalam keadaan terkunci. Berarti sebelum aku pasti ada orang yg sudah buka pintu ini. Nyoba balik badan dulu, ini bu kos yg notabene non muslim ternyata bangun sama paginya, entahlah apa yg dilakukan. 

Dulu pernah dengar nasehat dari salah satu orang tua asuh, Chinese, Non Muslim, “Bangunlah pagi & jadilah orang pertama yang membuka pintu untuk mengizinkan aura pagi positif masuk ke dalam rumah, itu akan melatihmu untuk membuka pintu rezeki melalui tanganmu sendiri lebih awal dibandingkan uluran tangan lain”. Hmmm…mungkin ini ada hubungannya kali yah? 

Next, karena adzan subuh akan berkumandang sekitar 9 menit lg & jarak g seberapa jauh, jalan agak santai adalah pilihan yg tepat. Biasanya sih buru-buru, hihihi. Kelihatan beberapa Bapak-bapak sedang nobar World Cup di jalanan, pertandingan Brazil-Germany yg update terakhir td liat di TV sudah 5-0 untuk Germany. Oalah, ini toh pelaku berisik sejak sahur barusan. 
Agak sungkan melewati kumpulan bapak-bapak ini, g ada jalan lain selain lewat pas di tengah-tengah kumpulan mereka. Hanya bisa menundukkan kepala & jalan agak cepat. Melewati beberapa rumah yang pintunya masih tertutup rapat. 

Salah satu pintu terbuka, keluar seorang wanita dengan memakai mukena & sajadah di tangannya. Mukanya masih asing, karena mungkin sebelum2nya aku yg tidak memperhatikan, hihihi. Sampai di masjid, 2 nenek ramah yang sudah biasa ku sapa sedang melakukan sholat tahiyatul masjid di deretan paling depan, posisi favorit mereka, di bawah kipas. 

Ku pilih posisi di sebelah mereka, selalu jadi kebahagiaan tersendiri menjalani tradisi salim dengan mereka, sambil melakukan refleksi senyum pagi. Selanjutnya, di sebelah, di susul ibu-ibu dengan menggunakan sajadah mungil yg mengingatkan sajadahku ketika masih kuliah, tipis, kecil, hanya beda warna, tapi bisa aku pastikan, itu type yang sama seperti yang dulu aku pakai. Hanya bisa senyum mengingat memory sajadah itu. 

Menunggu adzan sambil baca Al-Qur’an, tiba di surah Ar Rahman. Ayatnya familiar, biasa di dengar dari rekaman otomatis saat mendekati adzan subuh. Penasaran dengan maknanya, sengaja tdk beranjak ke surah yang lain, membaca lagi dari awal melalui terjemahannya. Ya Allah, maknanya indah sekali, suka sekali membacanya. Sesuai nama surah nya, Maha Pengasih, sangat jelas digambarkan betapa Allah mengasihi umatnya. 

Setelah adzan berkumandang, 2 nenek di sebelahku, dengan keterbatasan fisik karena termakan usia, mereka kelihatan masih sangat semangat mengejar nikmat yg melebihi kekayaan alam dan sekitarnya melalui sholat sunnah sebelum subuh. Terbersit dalam pikiran “Apakah nanti ketika usiaku seperti mereka, aku akan masih sesemangat ini melakukannya?” No body knows, kita hanya bisa mengusahakan. Sholat jama’ah subuh berlangsung seperti biasa. 

Sudah menjadi rutinitas, setelah sholat subuh selalu ada kajian hadits dari kakek2 yang itu2 aja. Topik pagi ini adalah tentang menuntut ilmu. Jujur, baru kali ini memperhatikan, biasanya nyuekin beliau dgn sibuk sendiri baca Al Qur’an, atau bahkan langsung pulang karena kelopak mata sudah tdk tahan digelandotin setan-setan yang bikin ngantuk parah. 

Pagi ini, melakukan hal beda, menyelesaikan surah Ar Rahman & mengamati si kakek, hihihi. Setelah diperhatikan, buku yang dibawanya masih sama, buku bersampul coklat tua setebal novel tere liye. 2 hadits yang saling berkaitan dibahas oleh beliau. 

Setelah diingat-ingat, kajian subuh selalu diisi oleh beliau dengan topik yang berbeda setiap paginya. Beliau memiliki public speaking skills yang lumayan bagus, orang-orang memperhatikan dengan baik, sesekali disisipi jokes sederhana yang membantu jamaah tertawa, pembawaannya tenang, ringan tapi chrispy, nggak bosenin. 

Wait! tiap hari topiknya beda, pernah suatu ketika hadits yang sama diulang di keesokan harinya dgn alasan ada ketidaktepatan saat pembahasan hari sebelumnya, berarti kakek ini belajar setiap hari donk? 

Two thumbs up! Beliau mencontohkan bahwa menuntut ilmu memang tidak dibatasi umur, dan ilmu yang diperoleh tdk hanya didiamkan, melainkan di share.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: