//
you're reading...
Just post, Motivation

Belajar Kepada Matahari yang Lebih Dulu Ada

Usahkah kau gusar dan semak hati.
Setiap jalan punya tikungannya sendiri.
Pada masanya nanti, kau akan sampai juga di ujung jalan itu :
Kearifan.

Aku bisa begini karena aku lahir lebih dahulu dibanding dirimu.
Aku sudah melewati jalan yang sekarang kau lalui.
Aku sebagian dari para sesepuh, mereka yang lebih dulu mengenal semesta, selalu luwih ing tumindak, luwih ing sasmita, sarwa luwih ing lir sembarang kalir – lebih dalam bertindak, lebih dalam penerawangan, serba lebih dalam segala hal.

Para pendahulu, mereka yang sudah dimakan usia, pernah melewati segala kemarahan, juga kesalahan.
Karena itu mereka menggenggam kearifan, lebih sabar, lebih jembar.
Waktulah yang membuat mereka begitu.

Para tetua adalah air yang tenang.
Kau bisa bercermin di permukaannya.
Anak muda, mereka yang selalu bergegas, adalah air yang mengalir, arus deras.
Kau hanya melihat gerak yang lekas.
Bukan kedalamanmu.

Hanya yang pernah bercita-cita tapi kemudian khilaf, hanya yang pernah bergelora kemudian redup, tahu betapa benarnya waktu.
Dalam kesedihan dan kearifannya, waktu adalah teman yang baik.
Ia membikin kita tua.
Ia membikin sederet nama menjadi sejarah.
Ia membikin serangkai gelombang menjadi mandek.
Ia membikin arus deras menjadi reda.

Orang tak dapat meliat bayangannya sendiri di dalam air yang mengalir, tapi ia melihatnya dalam air yang diam.
Orang tua mmang punya kelebihan.
Mereka adalah air yang diam.

Jika kau cermat memandang ke dalamnya, kau akan melihat dirimu lengkap.
Kau akan melihat dirimu dalam perbandingan.
Di air itu, pengalaman telah membuang sauh, dan jauh di dasar terkandung simpanan kenangan.
Tetutama kenangan tentang kesalahan.

Tapi jangan terlampau marah kepada kesalahan.
Kesalahan mungkin hanya satu tahap dalam mencari kebenaran.
Bukankah anak kecil pun baru bisa berjalan setelah ia pernah jatuh?

Janganlah kau juga tergesa menyelesaikan semua dalam semalam.
Hidup toh bukan lakon wayang, bisa kita selesaikan sebelum siang.

Boleh saja kau mengutuk semua kenangan sebagai kesalahan.
Tapi hendaknya kau jangan lupa bahwa kita memang harus terus mencari bagaimana sebaiknya menjadi benar.

“Lelaki Naga” dalam “Perempuan yang Melukis Wajah”
By Ndoro Kakung

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: