//
you're reading...
Islam

Menyembah Allah Menghadap Ka’bah

Sedikit share dari sumber yang sempat terbaca. Untuk menjawab pertanyaan rekan-rekan yang kurang begitu paham mengapa Umat Islam menyembah Allah dengan menghadap ke arah Ka’bah. Untuk saudara muslim, jangan salahkan rekan-rekan kita yang berfikiran kurang benar, itu hanya karena mereka tidak mengetahui yang sebenarnya, dan tugas kitalah memberi tahu mereka.

Pertanyaan yang sempat muncul dari sosok yang cerdas dan pintar dalam sejarah :
Ini tentang cara shalat umat Islam. Cara umat Islam menyembah sesembahannya. Katanya Islam melarang manusia menyembah berhala seperti sumber-sumber yang ada di internet, tetapi mengapa ketika shalat, mereka justru melakukan suatu kebodohan dengan menyembah batu persegi empat yang mereka sebut Ka’bah? Tidak tanggung-tanggung, menyembah batu persegi itu sampai 5 kali dalam sehari.
Penjelasan :
Ka’bah sesungguhnya hanyalah kiblat, yaitu arah dimana kaum Muslim menghadapkan wajahnya ketika shalat. Jadi ketika shalat seorang Muslim sama sekali tidak menyembah ka’bah yang tak lain adalah batu persegi empat. Sekali lagi tidak. Yang disembah seorang Muslim hanyalah Allah, Tuhan seru sekalian alam. Yang diikrarkan seorang Muslim pertama kali masuk Islam adalah aku bersaksi tidak ada Tuhan kecuali hanya Allah.
Di dalam Islam, tata cara ibadah semuanya diatur secara sempurna. Yang mengatur tata cara ibadah itu adalah Allah. Rasulullah hanyalah utusan Allah yang menjelaskan tata cara ibadah itu. Tidak ada campur tangan manusia dalam hal aturan dan tata cara ibadah kepada Allah. Termasuk ke arah mana wajah harus dihadapkan ketika ibadah. Allah sendirilah yang menentukan ke mana wajah hamba-Nya menghadap ketika beribadah kepada-Nya.
Di dalam Al Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 144, Allah berfirman : “Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke Masjidil Haram dan di mana kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya”
Tujuan menghadap ke arah yang sama, yaitu ke arah ka’bah adalah untuk menyatukan umat Islam di manapun mereka berada. Jika tidak disatukan Kiblatnya, umat ISlam akan susah melakukan shalat berjamaah. Dalam satu masjid bisa terjadi ada yang shalat menghadap ke utara, ada yang menghadap ke selatan, ada yang menghadap ke tenggara dan lain sebagainya. Ibadah shalat jadi tidak khusuk. Persatuan tidak mudah tercipta.
Demi menyatukan umat ISlam di manapun mereka berada, Allah memerintahkan umat Islam menghadap Ka’bah ketika shalat. Jika ia berada di sebelah utara ka’bah berarti dia harus menghadap ke selatan. Jika ia berada di sebelah timur ka’bah berarti harus menghadap barat seperti orang Islam di Indonesia. Jadi sekali lagi umat ISlam tidak menyembah ka’bah.
Jika kita membaca sejarah dengan seksama, yang menggambar peta pertama kali adalah orang Islam. Orang Islam menggambar peta dunia dengan petunjuk arah selatan menghadap ke atas, sedangkan arah utara menghadap ke bawah. Dan bangunan ka’bah berada di tengah-tengahnya. Jadi dalam pandangan orang Islam, saat itu ka’bah berada di tengah-tengah peta dunia. Kemudian para pembuat peta dari Barat menggambar dunia dengan cara terbalik, artinya arah utara menghadap ke atas dan arah selatan menghadap ke bawah. Alhamdulillah ka’bah juga tetap berada di bagian tengah peta dunia.
Di ka’bah ada batu hitam yang disebut Hajar Aswad. Ada riwayat menarik, Umar Bin Khattab ra. pernah berkata kepada Hajar Aswad, “Saya tahu engkau hanyalah sebuah batu yang tidak bermanfaat dan tidak merugikan. Jika aku tidak pernah melihat Rasulullah menyentuh kamu, maka aku tidak akan menyentuh kamu.” Sekali lagi, tak lebih dari sebuah batu. Tidak seorangpun di kalangan umat ISlam yang beranggapan, bahwa batu-batu bertumpuk jadi ka’bah itu adalah Tuhan. Sama sekali tidak ada yang beranggapan demikian.
Di zaman ketika Rasulullah masih hidup, bahkan ada orang yang bernama Bilal bin Rabbah berdiri di atas ka’bah dan mengumandangkan azan dari atas ka’bah. Kalau orang Islam menyembah ka’bah, bagaimana mungkin seorang penyembah menginjak-injak Tuhan yang disembahnya? Bilal bin Rabbah berdiri menginjak ka’bah tidak ada masalah. Sebab ka’bah hanyalah sebuah batu, tidak kurang tidak lebih. Jadi anggapan bahwa orang Islam menyembah batu sangat jauh dar benar. Yang disembah oleh orang Islam hanyalah Allah, Tuhan seru sekalian.
BUMI CINTA – p204-207

Discussion

3 thoughts on “Menyembah Allah Menghadap Ka’bah

  1. nice info^^

    Posted by kay- | April 13, 2011, 10:18 am
  2. Jikalau tidak ada faedahnya sama sekali…mungkinkah hajar aswad di pindah atau dibuang?jika itu terjadi kr2 bgmaina tanggapan umat muslim??

    Posted by amran | May 28, 2011, 7:33 pm
  3. Jika salah satu batu hajar aswad dicabut/dipindahkan, akan terjadi gempa di salah satu bagian bumi, percaya atau tidak, itulah agama islam, agama itu lahir dari keyakinan tidak smua hal dlm keyakinan itu masuk akal, tdk smua hal harus dibuktikan dgn akal sehat..

    Posted by Adhi | July 12, 2013, 12:01 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: